OuR jOuRnEy

January 10, 2011

F.T Island Always Be Mine

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 2:31 pm
I hear you breathe
You’re lying close to me
The shadows gone
I have found my peace

You make me calm
With you I’m safe from harm
And right by your side
I’ll stay through the night ’til eternity
That’s the way it will be

And I wonder what you’re dreaming of
You’re so peaceful when you sleep
Everything I want everything I need is lying here in front of me

And if I ever lose my power to fly
Then your love takes me high
I’ll always be true to you
Sometimes I think I might lose it all
Guess the chances are small
‘Cause you hold me close I feel you near
Don’t let go say you’ll always be here
So just hold me tight and I’ll be fine
Dreaming you will always be mine

Just like the sun
You make me warm inside
Like a soft summer breeze
A moment to seize
So true I won’t stop loving you

And I wonder what you’re dreaming of
You’re so peaceful when you sleep
Everything I want everything I need is lying here in front of me

And if I ever lose my power to fly
Then your love takes me high
I’ll always be true to you
Sometimes I think I might lose it all
Guess the chances are small
‘Cause you hold me close I feel you near
Don’t let go say you’ll always be here
So just hold me tight and I’ll be fine
Dreaming you will always be mine

And I wonder what you’re dreaming of
You’re so peaceful when you sleep
Everything I want everything I need is lying here in front of me

And if I ever lose my power to fly
Then your love takes me high
I’ll always be true to you
Sometimes I think I might lose it all
Guess the chances are small
‘Cause you hold me close I feel you near
Don’t let go say you’ll always be here
So just hold me tight and I’ll be fine
Dreaming you will always be mine

Just hold me tight and I’ll be fine
Dreaming you will always be mine

April 11, 2010

senyap..

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 12:47 pm

Manuskrip lusuh diujung gulungan melebar, membuka n0ktah pada sgnap ingin tahu yg membanjiri sampul.

mataqu mengerling wajah wajah tirus tanpa daya yg terg0res dlm tiap huruf.

Bersuluh kelip gemintang kelam yg brtamu pelan pelan.

Qu seberangi smw hulu, hilir dan lubuk misteri.

Bersama l0nceng mengalun antara angin dan rimbun putik putik bunga muda.

Aroma ar0ma embun siang yg lekat djemari kisut.

Bersalaman dg kecambah kecambah mengintip malu dr rekahan s0re yg telah dilalui. Kibar malam menabir temaram ditepi buta.

, jauh petualanganqu berkisah dgmu.

Beserta setiap bel0kan, tanjakan, tebing, bukit curam dan lembah yg lewat.

Kerincing gema gema serak dr kicau burung burung mungil bersayap pelangi melenakan qt.

Indah ini tak usang, meski waktu semakin tua dan b0ngk0k.

Helaiannya menipis dlm perak pantulan cahaya..

Namun, qt pun mesti tidur jua.

Merebahkan kantuk tiba tiba.

Hei, dunia kata ini belum akn ada akhirnya. 🙂

-chiqux a.k.a eRika

March 29, 2010

lagilagiiii^^

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 12:36 pm

KELANA DAN MATAHARI

Matahari sore bersinar lembut. Sorot jingga menembus kaca jendela sebuah rumah mungil bergaya Victorian. Seorang gadis cantik berkulit kecoklatan dan berambut panjang sepinggang terlihat sedang mendiktekan kata-kata kepada seorang lelaki tampan. Sebuah surat yang tak bisa ia tulis sendiri. Dengan sabar, lelaki tadi menulis setiap kata yang gadis tersebut katakan. Seolah merekam obrolan yang tak kasat mata, obrolan dalam surat yang begitu hidup. Sesekali lelaki itu tersenyum mendengar ocehan si gadis, gadisnya, gadisnya yang buta.

Surat dari Lana

Bogor , 22 Dec 2006

Re, pa kabar?

Sebenarnya, tanpa menanyakan hal itu pun aku tahu kalau kau bakalan baik-baik saja. Aku selalu tahu itu.=)

Hari ini, saat kutulis surat ini, genap 9 bulan 10 hari sudah semenjak aku meninggalkanmu. Kalau perpisahan kita ini di ibaratkan kandungan manusi mungkin sudah waktunya ia dilahirkan. Aku memutuskan sudah waktunya pula aku jujur padamu tentang semuanya.

Huffh…betapa aku amat merindukanmu Re, kemarin dan hari ini. Entah besok, apakah aku masih merindukanmu atau tidak,aku tak tahu. Tapi aku juga tidak menutup kemungkinan itu kok,toh hanya sekedar rindu..

Kuharap banyak perubahan yang terjadi padamu Re, sebanyak perubahan yang telah kualami.

Tahu nggak? Sekarang aku semakin mahir mendeteksi langkah dan kehadiran seseorang Re (ingat,kau dulu amat mengagumi kemampuan kecilku itu,hehehehe..), juga semakin jauh menghapal rute jalan-jalan yang kulalui setiap pagi. Bogor amat dingin Re, sehingga aku harus rajin-rajin bergerak supaya tidak membeku. Pernah terpikir juga olehku, mungkin seharusnya aku mengajakmu kesini, karena sedingin apapun, dengan kau ada disampingku aku merasa amat hangat. Namun bukan kah hal itu terdengar sangat lucu hei, tujuanku pindah ke Bogor kan untuk menjauh darimu.

Masihkah kau mencariku , Re?

Harus kuakui ada sedikit rasa bahagia mengetahui bahwa kau tetap saja mencariku, tapi hentikan saja itu Re, percuma. Aku takkan pernah kembali lagi. Jangan merasa bersalah seperti itu. Memang benar bahwa kau yang membuatku buta seperti ini,- eumm, jangan mengernyitkan kening Re,aku benci melihatmu mengerutkan kening,- oh, baiklah ku ganti saja kata-kataku. Memang benar bahwa kau yang membuatku tak bisa melihatmu lagi, tapi aku tak ingin kau menyia-nyiakan waktumu yang berharga itu hanya untuk menjadi tongkat penopangku seumur hidup. Sadarlah Re, aku ini angkuh, aku ini kuat. Aku bisa mengurus diriku sendiri kok, kau terlalu meremehkan aku. Aku tak suka menjadi beban orang lain. Dan kau seharusnya sudah menikah dengan cinta pertamamu itu…maap aku sengaja tak menyebut namanya. Bukan karena namanya terlalu jelek, sama sekali buukkaaaann… tapi hatiku belum sanggup mengucapkannya saja,he.he..he..

Harusnya aku senang ya Re, karena bisa membuatmu berpaling darinya dan terikat padaku seumur hidupku. Tapi sungguh aku tak sanggup melihat senyum khususmu padaku itu. Senyum yang tak seharusnya ada. Setidaknya senyum itu tidak boleh jadi milikku. Tahukah kau, diam-diam aku menangis saat melihat garis senyum ramah yang selalu kau berikan? Rasanya hampa Re. Meski kau telah mengungkapkan sejuta cinta saat memperlihatkan senyum itu, tapi aku sadar seharusnya senyum itu tak layak ku miliki. Bagaimana bisa aku membuat orang yang paling tak ingin kubuat sedih, terpaksa menjadi abdiku? Justru itu melukai ku teramat dalam Re…jadi kumohon dengan sangat, tak usah mencariku lagi…pleaseee

Kau tahu? Alasanku melarikan diri darimu adalah supaya kita bisa hidup dijalan masing-masing. Kau dengan kehidupanmu dan aku dengan kebahagiaanku disini.

Kau masih ingat Re, tentang filosofi ”Matahari dan Kelana” ku? Kelana akan selalu mengejar Matahari, tak akan berhenti apapun alasannya. Sampai suatu saat kemudian Kelana akan tersadar bahwa Matahari tak akan pernah bisa terkejar. Seberapapun cepatnya Ia berlari, Matahari selalu lebih dulu menggapai peraduannya sendiri dan digantikan dengan kegelapan, karena bahkan bulan purnama tak bisa menggantikan hangat dan ceria yang terpancar dari Matahari. Itulah yang terjadi padaku (atau kita?) Re. Kini kegelapan itu telah sepenuhnya menjadi milikku dan aku memutuskan untuk berhenti berlari. Jadi akan menghianati kodrat dan siklus kalau Matahari malah berusaha muncul kembali saat Kelana tak lagi mengejarnya.

Sekarang kau paham Re, kenapa aku bersikeras memintamu berhenti mencariku?? Aku ingin berdamai dengan apa yang telah kudapatkan dan yang terjadi padaku ini mutlak BUKAN salahmu. Camkan itu baik-baik! Aku tak pernah menyalahkanmu karena kecelakaan itu. Kalau pun misalnya saat itu aku tidak semobil denganmu belum tentu juga aku takkan buta. Tuhan selalu punya rencana indah, Re.

Merki begitu, tolong ingat baik-baik, kau akan tetap menjadi Re-, Matahari ku, untuk selamanya bahkan seandainya aku diberi kesempatan untuk reinkarnasi setelah kehidupanku yang ini. Setidaknya masa-masa aku pernah mencintaimu bukanlah masa-masa terburuk bagiku. Aku bersyukur pernah merasakannya. ^_^

Sepertinya diluar mulai hujan Re, aku harus mengakhiri suratku. Jangan heran ya? Sekarang aku mulai menyukai hujan, secara Bogor kota hujan he..he..he.. Bukan berarti aku jadi membenci matahari, tapi seperti yang telah kubilang tadi aku ingin berdamai dengan apa yang kuperoleh saat ini. Aku akan mensyukuri apapun yang kudapat.

Ouh..kenapa aku malah melantur lagi? Sudahlah kuakhiri saja suratku, sebelum hujan diluar berhenti menari untukku. Kau tahu, indah sekali suara hujan. Aku baru menyadari itu. Dan aku merasa amat bodoh tidak dari dulu-dulu aku sadari hal itu. Aku merasa rintik hujan itu menyanyikan sebuah lagu, lagu tentang Matahari, (ngaco banget yah….hehe)

Tapi sebelumnya aku memiliki beberapa request:

Ingat:

  • Jangan mencariku lagi apapun yang terjadi.
  • Berhentilah merasa bersalah karena telah mencelakaiku dan membuatku seperti ini, aku sudah memaapkan kecelakaan itu jauh-jauh sebelum kau melakukannya.
  • Teruskan hubunganmu dengan… T-a-n-i-a.(.aku berhasil mengejanya Re). Menikahlah dengan dia seperti rencanamu semula sebelum…peristiwa yang yang menimpaku terjadi dulu. Peristiwa yang membuatku buta. ^^
  • Kau tetap Matahariku, apapun yang terjadi.

  • Aku memang tetap Kelana, tapi aku bukan “Kelana mu” jadi kau tak perlu merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku
  • Aku tak akan pernah menyebut nama lengkapmu Reza Aryansyah, bagiku kau tertap hanya Re. Jangan memaksaku untuk mengalah dalam hal ini.

P.S. : Disini aku menemukan seseorang bernama Surya,…kau mengerti maksudku kan?

Dia yang menghampiriku, jadi untuk yang ini aku tak perlu mengejar lagi.

Terserah apapun prasangkamu tentang aku,aku meng-iya-kan semua..^^

With love

– Kelana –

Setelah selesai, lelaki tadi membacakan sekali lagi surat yang telah ditulisnya untuk si gadis. Gadis tersebut tersenyum puas.

***

Pada suatu pagi yang benar-benar cerah, langit bersih tanpa gumpalan awan sedikitpun. Terlihat Lana menulis suratnya dengan hati-hati, kali ini gadis cantik berkulit kecoklatan dan berambut panjang sepinggang tersebut menulis kata-katanya dengan tangannya sendiri. Dia sendirian, namun tak lagi buta. Kedua belah matanya bagus. Sesekali dia berhenti untuk mengamati hasil tulisannya, tersenyum. Sedikit kabut menggenang di ujung matanya, ada kenangan pahit dalam surat itu.

Surat dari Lana 2

Malang 22 Juli 2008

Hai Re…

Kabar baik kan? Hehe, sekedar memastikan sebab aku tahu kamu pasti selalu baik-baik saja.=)

Ini suratku yang kedua. Kalau kamu cermati, suratku yang pertama dulu kukirim tepat saat musim dingin dan sekarang aku kirim surat lagi tapi saat ini musim panas. Taukah kamu apa artinya? Suratku yang pertama mencerminkan hatiku yang dingin, beku, dan sendiri. Jujur saja, aku malah merasa lebih terluka meski aku yang sengaja melarikan diri darimu. Seperti mengingkari sesuatu yang sebenarnya sangat aku inginkan. Sakit.

Dan sekarang ini musim panas, musim panas yang ceria…seceria hatiku.=) Aku menikmati pancaran matahari yang selalu berbaik hati membagi sinarnya. Aku juga sedang menikmati pekerjaanku sebagai guru Taman Kanak-Kanak di tempat aku tinggal. Jangan kaget yah, aku sekarang bukan Kelana gadis buta lagi.

Ceritanya puanjaaang banget, tapi kucoba meringkasnya untukmu.

Masih inget pesan di akhir suratku yang lalu? Tentang Surya. Ternyata dia sama bodoh dan sama tololnya dengan kamu. Lima bulan bersamanya aku samasekali nggak tau kalau sejak kecil dia mempunyai kelainan jantung dan harus tergantung pada alat. Dia menyembunyikan itu semua dari aku. Tentu saja aku marah sekali waktu itu Re, tapi pada akhirnya aku tetap tak bisa membencinya begitu saja hanya gara-gara dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku malah semakin mendekatkan hatiku padanya. Aku merasakan kebahagiaan yang beda dari saat ku bahagia karena mencintaimu. Aku merasa benar-benar dibutuhkan Re. Ternyata menyenangkan sekali mengetahui bahwa ada seseorang yang mengenal aku sebaik bahkan lebih baik dari aku mengenal diriku sendiri. Mengingat, selama ini biasanya akulah yang berusaha mengenal orang lain sebaik-baiknya. Dia merupakan Matahari juga dalam hidupku, bukan Matahari kedua tapi sama-sama Matahari. Matahari yang lain –yang kuharap bakal bersinar labih terang di kebutaan mataku.

Akan tetapi kebahagiaan itu tak bertahan lama Re, keadaan Surya memburuk pada sehari menjelang pernikahan kami. Aku harus menelan pil pahit saat akhirnya dia meninggalkanku untuk selama-lamanya hanya selisih 2 jam setelah kami disahkan jadi suami istri oleh Penghulu. Aku kembali dirundung gerhana Re, aku kehilangan tongkat penopang jiwaku, aku tumbang. Aku menjanda tepat dihari yang sama aku menikah.

Tapi yang lebih membuatku lumpuh lagi, sebelum meninggal Surya mendermakan kedua mata indahnya untukku. Aku tak bisa berkutik. Aku mencintainya Re, aku bahagia bisa mengenalnya.

Ada satu lagi pesan terakhir Surya. Dia meminta maaf padaku, dia bilang dulu dia pernah menghamili pacarnya waktu sekolah di Malang. Meski anak itu terlahir selamat, tapi pacarnya tak mau mengasuh anak itu, begitu juga Surya. Jadi anak itu dititipkan di salah satu panti asuhan disana oleh ibunda Surya. Aku marah padanya Re, karena dia tidak mau mengasuh darah dagingnya sendiri. Akhirnya selang sebulan setelah kepergian Surya, aku dan ibu mertuaku pindah ke Malang guna mencari dan mengambil anak itu. Dan kami menemukannya Re, anak itu cantik sekali. Dia mempunyai mata yang sama dengan ku, mata Surya. Namanya Aurora, nama yang indah seindah wajahnya.

Kurawat dia Re, kusayangi dia seperti aku menyayangi diriku sendiri. Dialah harta yang paling berharga, satu-satunya peninggalan Suryaku. Aku nggak tahu kenapa, tapi kami saling menyukai satu sama lain.

Kemudian saat aku sedang merasakan kebahagiaan dengan keluarga baruku, aku bertemu Lily. Masih ingat padanya kan?dia sahabatku saat kita masih SMA. Dia bercerita tentang kamu Re, dia bilang kamu sekarang tinggal di Bogor. Apa kamu masih mencariku Re?? ngotot banget sih kamu ini…

Sudahlah Re, aku telah membebaskan sumpahmu untuk menjagaku, dengan kepergianku dari Jakarta. Apalagi sekarang aku sudah tidak buta lagi. Mata milik Surya telah mnggantikannya untukku. Jadi kamu tak usah merasa wajib menjagaku lagi.

O iya, Lily juga cerita kalau kau tak pernah kembali pada Tania. Sebenarnya apa maumu Re? kau masih saja betah menjadi pemuda bodoh. Bodoh banget…untuk apa sih, kau sia-siakan ketampananmu, kecerdasan, dan kekayaanmu hanya untuk mantan orang buta? Murid-murid yang ku ajar saja tahu mana pilihan yang lebih baik.

Tapi ah, sudahlah. Aku tak mau mencampuri hidupmu, Re. Terserah lakukan saja apa yang mau kau lakukan. Toh, meski menurutmu kita ini segaris tapi jalur jalan kita udah beda.

Stop bercerita tentang aku dan kamu! Kini aku ingin menceritakan tentang tempat tinggalku yang baru. Malang yang indah. Malang memang tak seroyal Bogor dalam menurunkan hujan, tapi cukup dingin juga. Malang tak juga seroyal Jakarta dalam mengumbar sinar matahari, tapi aku cukup mendapat panas disini. Malang bnar-benar surga.

Aku memang tidak tinggal di dekat perkebunan Apel, tapi tak beberapa jauh dari rumah baru ku sekarang ini ada sepetak kebun teh milik warga. Kau tahu apa yang kupikirkan saat memandang pucuk-pucuk teh yang tertiup angin?memang ini tak adil, tapi ya, benar aku memikirkan kamu. Aku sedih. Aku seolah mernghianati mendiang suamiku. Kadang ku benci pada diriku sendiri. Aku sendiri nggak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Menjijikkan rasanya, aku ini istri orang namun masih saja memikirkan orang lain yang bukan suamiku.

Ah, sepertinya aku harus mengakhiri suratku segera Re. Aurora-ku (umurnya 8 tahun) mengajak mamanya ini jalan-jalan. Aku enggan menolak permintaannya meskipun aku sedang lelah hari ini.

Sekian ya Re, dan jangan mencariku lagi. ^_^

PS: # kau boleh membalas suratku ini bila kau mau, aku melampirkan alamat lengkap di surat ini. Kau paham, aku tak begitu berbakat berkutat di dunia internet, bahkan email pun aku tak punya. Aku tak secerdas kau yang ahli disegala hal, hehe… aku tetap lebih suka surat tulisan tangan. Sepertinya segenap perasaan lebih bisa tersampaikan pada si penerima, hehe..(dih, aku pinter ngeles nih..).

# oiya, dapat salam dari Auroraku yang cantik.. =)

With Love

-Kelana-

Setelah membaca sekali lagi suratnya, memastikan bahwa semua kata-katanya jelas, Kelana melipat suratnya dan memasukkan kedalam amplop. Dia berencana mengeposkan surat tersebut sekalian menemani Aurora jalan-jalan.

***

Kelana gemetar membaca surat yang baru saja dia temukan di bawah pintu depan rumahnya pagi ini. Ini bohong. Pasti ada orang yang sedang iseng. Tapi siapa? Ibu mertuanya? Aurora? Nggak mungkin. Tersendat-sendat Lana meneruskan membaca sampai tuntas.

Surat Matahari untuk Kelana

2 Agustus 2008

Kelana”KU”…

Huffh.. menulis kata itu saja tanganku gemetar. Bukan apa-apa, tapi karena ledakan rasa bahagia yang kurasakan setelah berhasil menemukan alamatmu. Tidakkah kau tahu kerinduanku begitu dalam untukmu?

Sungguh, aku masih tak mengerti akan kebodohanmu meninggalkan aku. Kamu kejam Lana. Aku tak pernah tahu kalau KelanaKu yang manis dan penurut serta baik hati bisa menjadi begitu tega padaku, orang yang katamu kau anggap sebagai matahari.

Ku akui mungkin memang aku yang salah pada awalnya, sikapku yang canggung dan kikuk dihadapanmu mungkin bisa nembuatmu salah sangka. Benar dulu aku amat tergila-gila pada Tania, cinta pertamaku. Aku selalu menutup mata mengenai perasaanmu terhadapku. Akan tetapi setelah kecelakaan itu, terlebih saat kau meninggalkan aku tanpa pesan dan tanpa petunjuk sama sekali, aku tersadar mengenai siapa yang sesungguhnya aku cintai. Selama ini aku hanya menghadap ke Tania dan berusaha mengejarnya. Aku tak peduli kalau kau dibelakang mengejarku sampai jatuh bangun. Bagiku tatapan mata hanya diarahkan fokus kedepan dan sesekali saja menoleh kebelakang, hanya untuk memastikan kamu tetap disana.

Mungkin lucu ya, aku tidak sepenuhnya memandang padamu tapi selalu ingin kau tetap diposisimu, mengejar dibelakangku. Ternyata aku ini orang yang egois ya, Lana? setelah kepergianmu lah aku sadar, aku nyaman berada didekatmu dan menjadi terbiasa melihatmu disekitarku.

Aku mulai berbalik arah, Lana. Aku menoleh kebelakang, tapi kau menghilang tiba-tiba. Aku hilang arah. Aku jatuh. Tak berdaya. Aku kebingungan mencarimu kemana-mana. Aku hampir putus asa. Aku hanya ingin melihat wajahmu, memastikan bahwa kau dalam keadaan baik-baik saja.

Sekarang kau paham kan, kenapa aku terus mencarimu? Kau tak bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat kau mengirimiku surat yang pertama. Hal itu membuatku sedikit tenang, tapi sekaligus juga membuatku gila. Keinginan untuk bertemu denganmu semakin tak terbendung. Rasanya seperti mau meledak! Apalagi alamat yang kau berikan itu palsu. Tapi aku tak hanya meratap pilu. Aku tetap berusaha mencari, aku yakin Tuhan punya rencana indah untukku seperti yang selalu kau katakan. Aku ingin kamu.

Akhirnya aku memutuskan pindah dari Jakarta ke Bogor. Aku masih berharap bisa menemukanmu disana. Dan ternyata tak salah aku mengambil keputusan itu. Disana aku menemukan ketenangan. Aku merasa seolah dekat denganmu lagi. Aku yakin itu.

Tiba-tiba aku teringat tentang ”Surya” yang pernah kau ceritakan didalam suratmu. Ada sedikit rasa jengkel, kenapa harus dia??! Aku marah. Aku kecewa, tapi tak bisa ku ungkapkan. Aku takut, bagaimana kalau Surya lah Matahari yang selama ini kau cari? Bukan Re. Kata orang, mencintai berarti melihat orang yang dicintai bahagia. Aku tidak seperti itu Lana, aku lebih dari itu. Aku mencintaimu dan aku ingin kamu bahagia bersama-sama aku, bukan dengan orang lain. Aku egois banget yah? Tapi memang itulah yang aku inginkan. Aku memang bukan orang yang dramatis, tapi saat membayangkan kau dengan yang lain, darahku mendidih. Ingin rasanya aku menghajar dan menantang Surya duel.

Kemudian saat suratmu yang kedua kemarin datang, aku baru paham. Ternyata Surya lebih mencintaimu daripada aku, aku jadi bisa mengerti kenapa kau bisa melupakanku dan jatuh cinta padanya. Tetapi aku tidak menyerah Lana, tidak! Aku berusaha mencarimu ke Malang. Akhirnya ada jalan untuk ketemu denganmu, jadi kupikir kenapa harus aku sia-siakan?

Sekarang lekaslah keluar menemuiku, sebab saat kau membaca surat dariku ini, aku sudah tak sabar untuk bertemu denganmu. Aku hampir bosan menunggumu diluar. Aku mencintaimu.

PS: aku tidak bercanda, cepat-cepatlah kau buka pintumu dan kau akan menemukanku diluar.

O iya, ajak sekalian Auroramu yang cantik. Aku ingin membalas salamnya langsung dihadapannya.

Luph u

_Reza_

Kelana terisak membaca surat tersebut. Masih tak percaya. Kemudian, teringat sesuatu, Lana bergegas membuka pintu depan. Sepi. Dia ada disana. Matahari yang ia coba tinggalkan. Tangis Kelana pecah. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

***

Seorang gadis kecil terlihal serius sekali menulis sebuah surat. Mata gadis kecil tadi mirip dengan mata Lana. Terdengar suara Lana memanggilnya, dia menyahut.

Surat Aurora

Malang, 8 Agustus 2008

Aku sayang papa.

Terimakasih karena telah mengirimkan mama untuk Aurora. Aurora seneng punya mama yang cantik dan baik seperti mama Lana. Aurora juga seneng karena punya nenek. Ternyata Aurora masih punya keluarga.

Mama benar-benar malaikat. Mama menyeka tangis dan ingus Aurora saat Aurora tahu papa sudah pergi sebelum sempat bertemu denganku. Dia bilang papa menitipkan padanya pelukan dan cinta untukku. Aku benar-benar senang pa, aku selalu tahu kalau papa itu menyayangiku. Pelukannya hangat dan terasa melindungi.

Oiya, ada lagi pa. Ada yang datang lagi, dia temen lama mama. Sebenarny Aurora nggak suka sama dia, tapi kayaknya mama seneng deh ketemu sma dia lagi.

Aurora sempet bingung pa, saat om Reza minta izin untuk menikahi mama. Aurora sedikit nggak rela, nanti pastinya perhatian mama terbagi antara Aurora dan dia. Namun pa, Aurora nggak sengaja ngeliat binar tersembunyi di mata mama saat om Reza melamarnya. Tanpa pikir panjang, Aurora langsung aja memberi izin. Menurut Aurora kayaknya mama seneng banget. Tahu nggak pa, saat sedang gembira mama lebih nampak sebagai malaikat daripada malaikat aslinya.

Semoga aja om Reza bisa ngebahagiain mama. Eh, bukan berarti papa nggak ngebahagiain mama, tapi kan umur mama juga masih muda. Aurora juga pengen ngerasain punya papa. Maafin Aurora, Pa. Aurora bingung harus gimana. Maafin Aurora ya? Aurora tetep sayang papa.

Sudah dulu ya, pa? Mama memanggil.

Pokoknya Aurora sayang banget sama papa..

Muahh..

PS: semoga pak pos mampu menemukan alamat papa disurga, sehingga papa bisa membaca suratku.

Aurora sayang papa.

Luph

-Aurora-

Sekali lagi dibacanya surat yang telah selesai ia tulis, sedikit terlalu panjang untuk anak seusia dia. Tapi sepertinya itu cukup mewakili perasaan hatinya saat ini. Dilipatnya rapi surat tersebut dan dimasukan kedalam amplop sebelum kemudian dia berlari menghampiri Lana dan Reza. Surat dalam amplop ditinggalkannya begitu saja diatas meja.

Erika a.k.a Chiqux

numpangnumpang..

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 12:26 pm

Penghujung Kenangan

Sabtu pagi 3 februari 2052

Aku melakukan ritual yang sama seperti yang selalu kulakukan setiap pagi. Sehabis sholat subuh, kulangkahkan kaki mengitari komplek perumahan hanya untuk sekadar jalan-jalan ringan. Hal ini membuatku tetap sehat tanpa tumpukan lemak di usia tuaku. Tua? Ya, aku sudah tua. Umurku sudah 62 tahun, baru tahun kemarin aku pensiun dari pekerjaanku sebagai Direktur di perusahaan periklanan yang kurintis semenjak muda. PT. ADIKARYA GEMILANG . Oh ya, namaku Fariz.

Sebenarnya senang juga sih bisa terbebas dari belenggu pekerjaan, tapi entah rasanya aku malah seperti pecandu yang kehilangan obat. Ada sesuatu yang hanya bisa tak kupikirkan jika aku sedang memegang lembar pekerjaan.

Aku memikirkan sosok cinta pertamaku. Cinta pertama yang hanya jadi kenangan cinta pertama sampai sekarang. Aku memikirkan Arina. Saat-saat yang seharusnya kunikmati dengan santai penuh suka cita ini malah membuatku tertekan. Aku jadi terus-terusan memikirkan dia kembali di hampir tiap menit dalam 24 jam hariku.

Mungkin menurut orang lain, ini merupakan suatu hal yang aneh. Aku sendiri pernah dengar apa yang mereka katakan tentang para lansia, mereka bilang menjadi lansia berarti kembali menjadi anak-anak. Dulu saat umurku masih 20-30an aku bisa mencibir ucapan itu, masa sih? Semakin tua harusnya semakin berisi kan? Kaya’ ilmu padi. Paling nggak menjadi lebih bijaksana . Tak pernah kusangka kini anggapan itu ternyata benar adanya. Aku merasakan sekarang, di penghujung masa tuaku. Rasanya pikiran kembali menjadi anak-anak, selalu ingin diperhatikan dan ingin memperoleh apa yang belum sempat teraih di masa muda dulu..

Sebenarnya sih, tak ada yang kurang dalam kehidupanku. Hidupku berlimpah cinta. Sebagai anak tunggal tentu aku tak kekurangan kasih sayang dari orang tua dan kerabat yang lain, tapi perkenalan dekatku dengan kata bernama cinta lawan jenis benar-benar membuatku tak berdaya. Seumur-umur memang hanya Arina lah wanita yang ku beri hati. Tapi hatinya tak pernah menggantikan hatiku.

Aku memang tak pernah merasakan kesepian. Meskipun tidak menikah, namun aku mengadopsi anak dari salah seorang sahabatku. Dia dan pasangannya meninggal karena kecelakaan ketika pulang kerja. Anak mereka yang berusia satu tahun kuputuskan untuk ku adopsi, mereka tidak memiliki sanak saudara yang lain. Anak itu bernama Fandi. Semua orang setuju atas tindakan yang kulakukan. Mereka berharap Fandi bisa mendapat kasih sayang dan pendidikan yang baik dalam perawatanku. Aku pantas bangga, pada akhirnya Fandi telah menjadi orang yang sukses dan kini menggantikan posisiku sebagai Presiden Direktur.

Sebenarnya dulu orangtuaku tidak terlalu setuju dengan keputusan yang kuambil. Bukan mengenai mengadopsi Fandi, mama papa pun sangat menyayanginya. Hanya saja orangtuaku menentang keras prinsipku yang tidak menikah seumur hidup. Mereka bilang, mereka merasa gagal menanamkan kepadaku salah satu ajaran agama yang mensunahkan untuk menikah. Apalagi aku ini anak semata wayang yang mereka miliki, namun toh akhirnya mereka mau juga menerimanya.

Fandi menggantikan jabatanku setelah ia menyelesaikan pendidikan S3-nya di bidang bisnis. Kini diapun sudah berkeluarga. Istrinya, Elma, dulu adalah teman kuliahnya semasa menempuh pendidikan sarjana. Mereka telah memberiku 2 orang cucu, Aldo dan Faiq. Aldo sekarang sedang duduk dikelas 4 SD dan Faiq masih berusia 2 tahun.

Sungguh, sampai beberapa bulan lalu aku masih finefine aja dengan hidupku. Aku bangga telah menjadi ibu sekaligus ayah bagi Fandi. Mampu memberinya kehidupan layak seperti yang kujanjikan pada mendiang orang tuanya dahulu. Aku juga bangga bisa dipanggil kakek oleh kedua cucuku.

Entah, akhir-akhir ini ada yang sedikit mengganjal dalam diriku. Ada sesuatu yang kosong. Aku memang bisa menjadi ayah sekaligus ibu serta kakek yang baik, tapi aku tak bisa menjadi istri bagi diriku sendiri. Aku tetap membujang sampai tua. Aku masih menunggu dia, pujaan hatiku, Arina.

***

Kamis pagi 4 september 2008, Fariz muda, Fakultas Ekonomi Universitas Harapan Jaya

”Baik, semuanya silahkan berkumpul disini! Hari ini adalah hari terakhir Ospek kampus kita. Kegiatan yang selanjutnya akan kita lakukan adalah sharing antar peserta dan panitia Ospek.” suara Kak Indra berkoar-koar di tengah lapangan, tapi terdengar sangat indah di telingaku. Suara itu sekaligus merupakan tanda bahwa aku telah bebas dari semua tugas ospek yang menjemukan.

Acara sharing tersebut diisi dengan canda tawa dan pertanyaan-pertanyaan ajaib yang dilontarkan para mahasiswa baru serta ditingkahi pula oleh jawaban konyol dari para senior. Pokoknya beda banget deh, dengan 3 hari terakhir ini.

Kegegeran terjadi saat terdengar suara kentut yang cukup keras dari arah belakang. Sertamerta semua menoleh kearah suara ganjil tersebut berasal. Aku mendapati seorang mahasiswi sedang nyengir tak tahu malu. Kentara sekali kalau dia yang baru saja kentut tadi. Tentu saja semua senior dan para mahasiswa baru lantas tertawa ngakak, bahkan ada pula yang sampai terpingkal-pingkal dan keluar airmata. Gokil banget tuh anak, rada nggak sopan juga.

Namun, zlap! Ada getar aneh saat aku memandang cengirannya, degup jantungku tak beraturan. Seolah ada gempa lokal yang mengguncang seluruh isinya hingga jumpalitan. Perasaan itu kubawa sampai rumah. Masih terngiang jelas ucapannya saat dihukum tadi.

”Nama saya Arina Ayudya, saya dari SMA 28. Hobi saya melukis dan makan. Dirumah saya biasa dipanggil Ayi atau Arina, tapi kalau temen-temen dan kakak-kakak mau panggil saya imut nggak apa-apa, saya nggak nolak kok, hehe…” ucapnya centil setelah sebelumnya kesulitan menyanyikan lagu anak-anak Balonku Ada Lima dengan irama Potong Bebek Angsa. Kacau balau memang, tapi itulah hukumannya, hehheee….

***

“Papi kok senyum-senyum sendiri, sih?” tiba-tiba suara Elma mengagetkanku. Entah sudah berapa lama ia berada di depan pintu kamarku, berdiri disitu memandangku yang sedang tenggelam dalam masa lalu.

Elma nyengir, seolah menggodaku.

”Lagi mikirin apaan sih, pi?” tanyanya penasaran. Aku kembali tersenyum simpul, segera aku berdiri dari kursi ku dan menghampirinya ke arah pintu.

”Apa sarapannya sudah siap?” aku mengalihkan rasa penasarannya dengan pertanyaanku, tanganku mengusap-usap perut seolah aku benar-benar kelaparan.

Elma terkikik merlihat gayaku, sepertinya rasa penasaran yang dimilikinya tadi telah menguap.”Papi emang sudah ditunggu sarapan sedari tadi, bahkan Faiq udah menghabiskan isi mangkuk serealnya yang kedua untuk melapisi meja, hehe” jawabnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa, segera aku melangkah turun menuju ruang makan. Elma mengikuti di belakang.

”Kakeeeekkkk…..” jeritan Aldo menyongsongku saat aku masih berada di ujung tangga. Dia berlari mengampiriku dan langsung meloncat ke gendongan tanganku. Elma nenggelitiki pinggangnya dari belakang. Aldo tertawa-tawa senang, kemudian kuturunkan dia di kursinya. Kucubit pelan kedua pipi Faiq dengan gemas, dia masih sibuk melempar-lempar serealnya ke meja. Fandi menyeruput kopinya sambil tersenyum dari tempat dia duduk.

Kuraih koran pagi yang masih terlipat rapi, Fandi tak bakalan menyentuh koran tersebut sampai aku selesai membacanya. Elma menyuguhkan kopi susu beserta sepiring nasi goreng ke hadapanku.

”Hari ini apa agenda papi?” Fandi bertanya sembari menyantap nasi goreng bagiannya.

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaannya, kemudian aku menoleh ke arah Aldo. ”Sepertinya papi akan mengantar Aldo ke sekolah naik sepeda seperti biasa, kemudian mampir ke taman. Mungkin papi juga bisa sedikit berbincang-bincang bersama para lansia lainnya yang sedang disana”

Aldo mengangguk-angguk setuju, kedua pipinya mengembung penuh makanan.

”Apa papi tidak kecapean? Nanti Aldo kan bisa berangkat bareng sama ayahnya.” Elma menyahut agak khawatir.

”Yah, tapi kan Aldo pengen dianterin kakek!” agak merajuk Aldo memohon pada ayahnya.

”kakekmu kan udah olahraga setiap pagi, Do. Kalau harus terus-terusan ngenterin Aldo pakai sepeda nanti kakek kecapean trus sakit jadinya.” Fandi menerangkan dengan sabar kepada anak sulungnya.

Aku tertawa, ”Kalian ini terlalu menghawatirkan papi, tenang saja” ujarku meyakinkan.

Akhirnya mereka berdua mengalah pada keinginanku dan keinginan Aldo. Aku mengantarkannya dengan sepeda karena jarak rumah dan sekolahnya dekat. Di sepanjang jalan kami asyik bercerita.

”Kek, kemarin Aldo dapet teman baru. Dia pindahan dari Bandung, namanya Arinal” celoteh Aldo.

Deg! Jantungku seolah langsung membeku mendengar nama itu.

” A-Arina??” aku memastikan.

”Aduh kakek, bukan Arina. Arinal, pake eL , Kek. Rumahnya di jalan Pramuka, 3 blok dari komplek kita. Dia baik banget, suka bagi-bagi permen ke Aldo. Hehe..”jelasnya.

Pyar! Ada yang pecah didalam diriku, ternyata aku terlalu memikirkan Arina. Aduh gawat!

Sepulang dari mengantarkan Aldo, aku melewati taman kota. Aku mampir ngobrol dengan para lansia-lansia yang sedang berjemur matahari pagi. Pak Arya, yang pikun, seperti biasa dia lupa jalan pulang sehingga sedang menunggu di jemput supirnya. Rudi, dia lebih muda dari aku tapi sudah terkena stroke, sedang berjemur ditemani istrinya. Dan masih banyak lagi lansia lain disana.

Saat sedang membicarakan tentang peternakan kambing dengan pak Rizal, (entah dari mana obrolan ini berawal, tapi kukira mungkin asalnya dari topik tentang rumput lapangan golf didaerah Sentul yang hijau) aku merasa ada getaran aneh merayap di hatiku. Getaran aneh yang sama dengan dulu. Getaran aneh yang hanya kurasa saat bertemu Arina. Lalu mataku terpaku pada satu sosok.

***

Mungkin terlalu lama aku mematung saja disitu sampai-sampai Mang Dayat, supir kantor Fandi harus menyusulku ke taman kota. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Mang Dayat, dia nampak ketakutan. Bisa saja dia pikir aku terkena penyakit amnesia karena panas matahari atau apa, entahlah. Aku masih merasa melayang. Aku bahkan tak sadar kalau aku sudah dirumah.

Elma nampak terkejut melihat keadaanku. Dia juga terlihat ketakutan ketika Mang Dayat menceritakan bagaimana keadaanku waktu ditemukan. Elma buru-buru hendak menelepon dokter. Seketika aku sadar, ku cegah tangannya yang telah setengah jalan menekan tombol nomor.

”Sudahlah, El. Aku tak apa-apa.”

Raut wajah Elma mengungkapkan ketidakpercayaan saat kulangkahkan kakiku menuju kamar di lantai dua. Aku sendiri masih bingung. Harusnya sih aku gembira karena bisa melihat Arina lagi walau hanya sekilas di kejauhan, namun hal itu malah mengusikku. Aku kembali tenggelam mengingat masa lalu.

***

Senin, 22 september 2008

Aku terburu memasuki gerbang kampus. Hari ini aku telat bangun.Uh, mata kuliah pertama adalah Dasar Ekonomi Makro. Mata kuliah ini diampu oleh pak Yan, dosen tergalak yang hobi menceramahi mahasiswa yang tak disiplin. Kata-kata andalan yang selalu beliau ucapkan adalah, ”Bagaimana Perekonomian negara ini bakalan maju kalau kalian para pemuda bangsa tidak pernah disiplin!”. Aku bosan dengan kata-kata itu.

Di koridor lantai satu masih agak banyak mahasiswa yang bersliweran, berbeda dengan aku, sepertinya mereka memang sengaja telat. Saat naik ke lantai dua, sudah mulai terlihat sepi. Semua mahasiswa sudah masuk ke kelas masing-masing.

Ternyata tak cuma aku yang telat masuk kelas Pak Yan, ada sekitar tujuh orang mahasiswa termasuk diantaranya adalah aku dan Arina. Tidak tanggung-tanggung pada akhir pertemuan hari itu, Pak Yan memberi tugas yang sangat banyak bahkan terlalu banyak bila dikerjakan oleh kami bertujuh. Sumpah deh.

Berawal dari situ lah akhirnya aku dan Arina jadi akrab. Aku sering mencari-cari alasan untuk sekedar mengantar dia pulang atau meminta dia menemaniku membeli literatur kuliah. Sepertinya semenjak hari itu aku terhinggap virus ArinaColusis akut. Aku rela melakukan apapun untuknya. Dia kepala dan akulah ekor yang selalu turut kemanapun dia pergi. Mungkin bahasaku sedikit berlebihan, tapi bagiku tidak. Aku seperti bayangan yang mengikuti sisi cahaya yang sedang beredar. Aku gila. Aku sakit. Semua itu karena Arina. Aku memang benar-benar telah kacau untuk sekedar menggambarkan cinta ArinaColusis yang kuderita. Butuh kata lain yang lebih indah untuk melukiskannya. Tak hanya mencintai. Tak hanya memuja.

Kami sendiri telah lengket satu sama lainnya. Kami saling melengkapi. Arina sangat cerewet dan suka sekali bercerita, sementara aku nyaman hanya jadi pendengar. Aku memang tipe orang yang pendiam.Teman-teman sering menggoda kami. Katanya kami pasangan paling mesra di kelas. Aku dan Arina tak ambil pusing dengan hal itu, bahkan aku menikmati saja apapun yang mereka gosipkan. Aku terlalu penakut untuk mengungkapkan apa yang kurasakan pada Arina. Dialah cinta pertamaku. Sedikit narsis nih, sepertinya Arina merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan.. Kami akan jadi pasangan terbaik tahun ini, hehe..

Kekecewaan menelanku pada suatu hari. Melanda secara tiba-tiba. Ternyata kesalahanku begitu besar. Dosa. Pamali. Menerka sesuatu yang belum tentu benarnya. Sedikit bersyukur aku jadi pecundang. Tak pernah pasrah menyerah, tapi tak juga berani ambil langkah. Selalu meringkuk di area abu-abu persembunyianku yang nyaman.

Hari itu, dengan siulan riang kulangkahkan kaki menyusuri jalan menuju ruangan kuliahku. Aku sendiri pun heran, kenapa suasana hatiku sedang begini baiknya. Semenjak bangun tidur bibirku selalu ingin tersenyum, hmmmmm…

Tiba-tiba ada debaran aneh yang merayap pelan dihatiku. Debaran ini sangat kukenali.

”Dukk…!!” bahuku ditinju seseorang dari belakang. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa orang itu. Arina. Debaran tadi cuma kurasakan kalau aku bertemu dia.

”Bahagia banget sih,kayaknya?” tanya Arina padaku.

”Oh ya? Kupikir malah kamu yang lagi bahagia” elakku saat terlihat binar di matanya.

Dia tersipu malu, mukanya merona dengan cepat.

”Adit..” bisiknya pelan, aku mengerutkan kening tanda tak mengerti.

”Adit, tetanggaku, teman masa kecilku sekaligus cinta pertamaku. Kemarin kami baru saja jadian”jelas Arina semakin malu-malu, senyumnya mengembang bahagia.

Deg! Siulanku terhenti, langkahku juga, bahkan sepertinya seluruh sirkulasi udara dan aliran darah di tubuhku pun berhenti.

Bohong! Semua itu bohong! Kenapa Arina tak pernah cerita tentang itu? Aku merasa seperti dikhianati, seperti ditipu. Sakit rasanya. Aku masih tak beranjak dari tempatku berdiri.

”Eh, itu Adit! Aku duluan ya, Riz. Dadaaahh…” pamit Arina dengan ceria, dia berlari mendahuluiku dan menyusul Adit yang melambai padanya dari depan Gedung Dekanat.

Aku masih saja terdiam dan mematung. Aku tersadar sesuatu. Meski berhasil menjadi pendengar terbaik bagi Arina, tapi ternyata aku tak tahu apapun tentang dia. Sama sekali tak tahu.

***

Senin 5 Februari 2052

Hari ini sepulang dari ritual jalan-jalan pagiku, aku berencana untuk mengurung diri di kamar. Rasanya malas untuk melakukan apapun. Aku masih terkejut dengan apa yang kulihat tempo hari kemarin. Tak yakin kalau itu memang Arina. Aku takut kecewa bila salah menerka.

Tiba-tiba saja aku tertawa geli. Aku heran, kenapa di usia setua ini aku malah menyerupai remaja kencur? Seolah aku ini jadi muda kembali, meratapi sesuatu yang sentimentil. Aku ini normal nggak sih?

Aku menghembuskan nafas berat. Kejadian kemarin pagi benar-benar membuatku terkejut. Setengah melamun, kuingat kembali semua memori tentang Arina yang mengendap di otakku.

***

Aku dan Arina adalah dua orang yang sedang mengejar semangat hidup masing-masing dalam satu garis lurus. Arina yang mengejar Adit dan aku yang mengejar Arina. Bedanya Arina berhasil menyusul Adit dan berjalan beriringan, berdua. Sedang aku? Masih terlalu jauh hanya untuk sekedar berada dalam jarak pandangnya, jauh sekali. Meskipun sesekali Arina menghadapkan wajahnya kepadaku, memastikan aku tetap pada posisiku, tetap saja semangatku untuk mengejarnya terlecut kembali. Aku harus tetap mengejarnya. Konyol, karena sampai kini pun Arina tetap tak terkejar.

Aku memutuskan untuk pindah kampus saat pergantian semester. Tak tahan rasanya melihat Arina bahagia tanpa diriku. Pada pertemuanku yang terakhir dengan Arina rencananya sekaligus ku ungkapkan perasaanku padanya. Kami sedang duduk di bangku samping boulevard Fakultas Ekonomi.

”Dekan sudah menyetujui permohonanku untuk pindah” pelan aku memberitahunya

Arina terkejut,”Pindah? Kenapa, Riz?”

”Papa menginginkan aku untuk kuliah di luar negeri”jelasku masih dengan suara pelan. Arina termangu lama. Pandangannya lurus kedepan, tidak memandangku.

”Haruskah?” akhirnya dia buka suara.

”Ya” aku menjawab dengan kelu.

”Hanya kamulah temanku satu-satunya, kenapa harus pergi Riz? Siapa lagi yang akn mendengar semua ceritaku nanti?”

Tiba-tiba saja bangku yang kami duduki terasa lebih panjang, dengan aku di salah satu ujung dan dia diujung yang lainnya. Arina menaikkan kaki keatas bangku dan memeluk lututnya. Kepalanya menunduk, bahunya bergerak naik turun tak beraturan. Dia menangis. Ada rasa ngilu di hati ini, ingin merengkuhnya dan menghibur. Tapi kalimat terakhir yang diucapkannya tadi menghalangi dan membuat jarak kami seolah dipisahkan ribuan kilometer. Teman, hanya teman. Sungguh, aku tak bisa mengerti. Apakah pancaran cinta yang selalu keluar dari mataku ketika menatapnya itu benar-benar tak terlihat? Aku rapuh. Aku tak tahan lagi.

”Aku tak bisa terus-terusan disini dan melihatmu bahagia bersama Adit, pedih rasanya. Aku cinta kamu Arina. Aku ingin kamu bersamaku.” terucap juga akhirnya semua sesak yang menyumbat selama satu semester ini. Fiuuh…

Arina mendongak menatap mataku, raut mukanya kaget. Bedak dan maskaranya luntur oleh airmata. Pemandangan terakhir itulah yang kusimpan sampai sekarang. Aku tak pernah tahu apa jawaban Arina. Setelah mengucapkan kata-kata tadi aku langsung pergi meninggalkannya sendirian. Dan tak kembali lagi.

***

Kini setelah sekian tahun, aku bisa kembali bertemu dengannya. Rasanya masih tetap sakit. Bisa melihat dia bahagia tapi tak mampu menyentuhnya. Kupikir malah lebih menyakitkan daripada melihat dia benar-benar terbaring kaku di dalam tanah. Waktu menertawakan aku, yang tak mampu lepas dari penyakit ArinaColusis yang kuderita. Seperti orang tua yang kalah duel dengan anak kecil. Malu. Aku yang sengaja pergi menghindar. Aku yang sengaja melepasnya. Justru aku yang terluka parah.

Egoku bangkit seketika. Aku sadar, aku hanya perlu menemuinya untuk bisa lepas dari semua rasa sakit dan kenangan ini. Aku beranjak, hendak menuju taman kota lagi seperti dua hari yang lalu. Amat berharap kali ini aku beruntung.

Benar, aku menemukan dia lagi. Kelihatannya dia sudah mulai berdiri, hendak meninggalkan tempat ini. Tak seperti hari sabtu lalu yang hanya bisa terpaku, kali ini aku nekat membuntutinya. Aku ingin tahu dimana tempat tinggal Arina. Aku mengikutinya menelusuri gang kecil yang berbelok-belok. Agak lama sampai akhirnya aku melihat dia masuk di sebuah rumah bercat cokelat sederhana. Rumah itu termasuk dalam ukuran kecil, banyak bunga-bunga yang ditanam di pekarangannya. Pagarnya rendah dan tak terkunci. Aku memutuskan untuk masuk, ingin bertamu di rumahnya.

Aku mengetuk pintu tiga kali dan menunggu. Sedikit menenangkan hatiku juga.

Pintu terbuka, dia ada disana. Arinaku. Wajahnya yang dulu halus kini dipenuhi kerutan lembut, rambutnya pun telah beruban. Namun entah mataku yang salah atau apa, bagiku dia nampak semakin cantik, eksotis. Hatiku menggigil melihat pemandangan ini.

Arina tersenyum ramah, ”Maaf, mencari siapa pak?” suaranya tak berubah, masih sama seperti dulu. Aku seperti melayang.

”Maaf..?” Teguran Arina menyadarkanku kembali ke dunia nyata.

Aku tersenyum, sedikit berdehem sebelum akhirnya bersuara ”Arina, ini aku..”

Arina mengerutkan kening, sejenak berpikir. Tak beberapa lama kemudian senyumnya mengembang cerah, ”Fariz..” Dia masih mengingatku.

***

Pertemuan dengan Arina tadi membuatku sadar. Betapa beruntungnya aku selama ini. Alangkah sia-sianya hidupku bila aku terus-terusan mengandai dan meratapi kisah yang bahkan sudah puluhan tahun berlalu. Hidup harus terus berjalan.

Aku sempat ngobrol sejenak dengan Arina, bercerita tentang perasaan dan kisah ku selama ini. Dia masih saja gampang menangis di usia yang setua itu, dia tak berubah.

”Aku tak menyangka perasaanmu sedalam itu padaku, Riz. Tapi aku juga amat menyayangkan keputusanmu untuk tidak menikah hanya karena perasaan mu itu. Harusnya kau menikmati hidup berlimpah cinta yang kau punyai. Kurang apa lagi? Dengan kedua orangtua yang sangat menyayangimu, pendidikan tinggi yang bisa kau sandang, materi yang berkecukupan, tak semua orang bisa mendapatkannya.” Arina menghela nafas pelan, ”Apalagi sekarang anak yang kau adopsi sudah sukses, kau punya keluarga yang amat membanggakan dan mencintaimu.”lanjutnya .

Aku terdiam, meresapi apa yang Arina katakan.

”Menurutmu apa yang kurang saat ini? Cintaku kah?ckck..” Arina tertawa hambar

”Kau lihat kehidupanku sekarang Riz, amat sederhana. Dulu keadanku lebih menyedihkan dari ini. Bersama suamiku, kami pontang-panting membesarkan kedua anak kami. Kadang kami memang mengeluh, itu hal yang wajar, tapi kami tak pernah mengandai. Kami mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kehidupan kami. Itulah yang terbaik. Kami memang punya keinginan yang macam-macam, namun belum tentu hal tersebut yang kami butuhkan. Kami bahagia dengan filosofi seperti itu”

Arina membuang pandangannya kearah bunga-bunga di pekarangan.

”Bahkan bila kau dulu memaksakan hidup denganku, belum tentu kau sesukses sekarang. Dan belum tentu aku juga akan bahagia. Asal kau tahu, Riz, suamiku bukanlah Adit cinta pertamaku yang membuatmu pindah kampus. Aku mengenal suamiku ketika kami sama-sama mendaftar lowongan pegawai negeri. Dan aku tetap mencintainya sampai saat ini. Itulah nasib, Tuhan Maha Ajaib, Dia tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan”

Arina berdiri dari tempatnya duduk, menatapku sambil tersenyum ”Aku tak bermaksud mengusir, tapi lebih baik kau segera pulang. Mungkin sekarang menantu dan cucumu sedang bingung mencarimu. Kembalilah ke keluarga yang mencintai dan menyayangimu. Jangan lagi kau mengandai cintaku . ”

Aku juga tersenyum simpul mendengar kata-katanya. Beban dihatiku terangkat. Aku lega. Aku pamitan kepada Arina, bersiap untuk pulang. Saat hendak melangkahkan kaki menuju pagar, Arina memanggilku. Aku berbalik.

”Kau boleh datang kemari kapan saja kau mau, nanti akan ku kenalkan pada suamiku. Jangan lupa ajak sekalian kedua cucumu itu .”

Aku tergelak dan mengiyakan tawarannya. Aku ingin buru-buru pulang. Mungkin sekarang Faiq sedang menumpahkan isi mangkuk serealnya lagi. Hatiku terasa hangat. Terimakasih Arina.

(jangan lupa bersyukur atas hari ini^^)

Semarang, 6 maret 2010

_Erika a.k.a chiqux_

February 22, 2010

seucap..

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 5:31 am

penat..lelah…

banyak yang ingin keluar, minta ditulis..

tapi tanganqu tak kuasa…

tak seragam kecepatannya…

hingga hanya ada macet..

ada yang boleh kupinjam tangannya?

-Chiqux-

February 16, 2010

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 9:11 am

kesal…

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 9:03 am

hari ini rasanya sebeeell banget sama satu orang…

termasuk orang dalam juga c sebenernya, tp..bener bener tingkahnya itu..errgghhh.. seolah olah dunia hanya berputar pada dia sebagai porosnya…

harusnya dia sadar dumz…

dia gag bisa hidup sendirian..

butuh orang..

butuh kawan…

buat yang di’sakiti’, sabar yah..

qt ada buat kamu..

qt dukung kamu..

berjalan bersamamu..

jangan pernah luruh..

airmatamu berharga..

-Chiqux

sekedar pengingat, senantiasalah membumi…

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 8:56 am

Nenekqu berpuisi, “angin ini dE javu, puluhan tahun lewat, ia menyapa, hari inipun ia tak lelah menyapa.. Rencana ALLAH penuh rahasia syg, m0zaikmu ada dimana mana, jangan lelah mencari… Angin pemberianNya selalu membungkam keluhmu, membasuh peluhmu, jangan lupa berSyukur hari ini..” whoaa.. >_<

-Chiqux

January 20, 2010

saya rajin..hehe

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 4:48 am

kalian jangan salah sangka dengan judul diatas yah?

bukan..bukan maksud saya untuk menyombongkan diri. tapi saya sedang bangga dengaan diri saya sendiri sekarang.

bayangkan! selama 19 tahun karir saya didunia pendidikan*wakz..haha* baru semester ini akhirnya catatan saya lengkap..=D

pokokny saya bangga..

hidup diri saya sendiri!!!

hahahag…

tepuk tangan buat saya!*plokplokplokk…*

saya bangga karena meski tulisan saya masi goyangb kiri kanan tapi catetan saya lengkap kap kappp…

bayangin ajah, hampir semua kata-kata dari dosen saya catet, *sampe-sampe waktu mas narto nerangin ttg jakarta undercover saya juga nyatet secara detaill..hikz..mengerikan..hehe*

January 16, 2010

haruskah…

Filed under: Uncategorized — sunshineroses @ 7:18 am

tak pernah sesal..

tak pernah kelu..

tak pernah terkhianat…

tapi lorong waktu yang melemparku dengan kenangan terdalam ini,

seolah mengangkasa…

bukan masalalu jika ia tak kembali pada waktu kini…


-chiqux-

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.